St. Yafet's posts with tag: agama
Tampaknya waktu tidak lelah untuk berputar. Sekali lagi saya pun harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah saya perhitungkan sedemikian rupa sehingga pada waktunya nanti akan benar-benar selesai. Bukan masalah disiplin atau profesionalisme, melainkan lebih kepada efisiensi waktu yang saat ini saya merasakan masa luang sepertinya sulit untuk ditemukan akibat dari padatnya jadwal antara yang penting dan tidak penting berjalan bersamaan. Walau hanya sekedar untuk bermain game atau sejenak menonton sampah di televisi pun tidak ada. Beberapa hari kebelakang saya pun harus menjalani training sebagai bentuk perpanjangan tangan dari pekerjaan. Hidup di dua sisi dunia yang berbeda membuat konsentrasi sulit untuk difokuskan pada satu titik. Ada kalanya saya melihat sebuah pekerjaan penting bermetamorfosa menjadi seperti makanan basi dan hambar untuk dinikmati sehingga membuat saya muak. Semua materi yang dicoba untuk dijejalkan kedalam kepala saya membuat kepala saya yang jika diketuk bunyinya tidak nyaring lagi karena otak saya berisi ilmu perpanjangan tangan dari pekerjaan. Mengingatkan saya kepada sebuah pertanyaan penting "bagaimana cara memasukkan gajah kedalam kulkas?", logikanya mudah, buka pintunya lantas masukkan gajahnya kemudian tutup pintunya. Ilustrasi tersebut juga berlaku ketika saya harus mempelajari sesuatu yang sebenarnya sebesar gajah tersebut dan otak saya hanya sebesar kulkasnya, itu pun hanya kulkas satu pintu. Yang lebih parah lagi adalah kulkas tersebut sebelumnya telah dimasukkan kuda, sapi dan singa, sehingga kepala saya pun penuh dengan pengetahuan baru yang melebihi kapasitas menyimpan memori kepala saya. Tapi biarlah, siapa tahu binatang-binatang tersebut mati kedinginan lalu dagingnya bisa dimakan. Sayangnya, saya tidak makan daging!
Sekarang dini hari, dan beberapa jam lagi saya harus sudah siap-siap menjalani rutinitas harian. Kerja dan kerja! Tapi sebelum tidur, rasanya tidak sempurna jika saya tidak melanjutkan tulisan yang sebelumnya. Saya tidak mau mimpi dalam tidur saya dikejar-kejar oleh "sebelum tidur part 1" yang terus merengek agar disambung dan tidak terbengkalai, kalau celana mah namanya ngatung! ...ah saya malam ini akan tidur 3 jam lagi seperti kemarin dan lusa. Saya bingung apalagi yang harus saya mimpikan malam ini. Apakah saya akan mimpi bagaimana cara start dan stop R/3, Oracle database, backup dan temannya, user administration, archiving, spool & print, background process, authorization, system monitoring serta masih banyak lagi area bermain SAP? st02, st03, st04, st06, db12, db13, db16, db02 atau sm37?? ah kode-kode itu masih diarea yang sama. kira-kira apa ya yang enak dijadikan mimpi? tidur dulu ah..
zzz...ZZZZ...
Enjoy!!   | Army Life | | The Singles | | The Exploited | | | The Mods | | The Singles | | The Exploited | | | Crashed Out | | The Singles | | The Exploited | | | Exploited Barmy Army | | The Singles | | The Exploited | | | I Believe In Anarchy | | The Singles | | The Exploited | | | What You Gonna Do | | The Singles | | The Exploited | | | Dogs Of War | | The Singles | | The Exploited | | | Blown To Bits (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Dead Cities | | The Singles | | The Exploited | | | Hitler's In The Charts Again | | The Singles | | The Exploited | | | Class War | | The Singles | | The Exploited | | | SPG (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Cop Cars (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Y O P | | The Singles | | The Exploited | | | Attack | | The Singles | | The Exploited | | | Alternative | | The Singles | | The Exploited | | | Troops Of Tomorrow | | The Singles | | The Exploited | | | Computers Dont't Blunder | | The Singles | | The Exploited | | | Addiction | | The Singles | | The Exploited | | | Rival Leaders | | The Singles | | The Exploited | | | Army Style | | The Singles | | The Exploited | | | Singalongabushell | | The Singles | | The Exploited | | | Punks Not Dead (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Sex And Violence (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Dole (live) | | The Singles | | The Exploited | | | Out of Control (live) | | The Singles | | The Exploited | |
Sex_Pistols_Anarchy_In_The_UK(Music_Video)(www.punkrockvideo.net).mpeg (21.4 MB)
Pagi-pagi seperti biasa kubuka Inboxku, kulihat sebuah e-mail yang perlu tanggapanku...email yang menantang untuk ditanggapi. Ada nama institusi yang sengaja saya ignore agar tidak terjadi kesalahpahaman. Berikut ini emailnya:
From: Akmal Budi Yulianto Sent: Tuesday, December 05, 2006 3:34 PM Subject: Perlu mempertimbangkan
Salam kesejahteraan ,
Konon kabaranya swasta lebih baik daripada negeri , perhatian di segala bidang dan aspek ,
Konon kabarnya pula , swasta lebih diperhatikan daripada negeri ,
Konon kabarnya di kepegawaian negeri ada istilah tentang GAJI ke 13 padahal setahun hanya 12
Gaji ke 13 adalah bentuk apresiasi dan penghargaan serta wujud perhatian kepada para karyawan
Kiranya perlu dipertimbankan agar gaji ke 13 masuk dalam pembahasan di tingkat “elite” ixxxxt atau AxxxA
Gimana sodara Yafet … ada tanggapan ????
Akmal Budi Yulianto ( ABY )
Lantas aku membalas email tersebut seperti berikut:
From: Yafet Santo Nugroho Sent: Wednesday, December 06, 2006 2:55 AM Subject: RE: Perlu mempertimbangkan
Hark and Behold,
Mari kita lihat dari sudut pandang positif dan negatif. Ungkapan “konon” sejatinya adalah ungkapan yang tidak pasti, ungkapan lama yang berusaha memberi stigma positif yang berusaha mendobrak pemikiran orang-orang yang dibodohi. Swasta lebih baik daripada Negeri itu juga tentatif, karena tergantung apa yang ada pada struktural dan fundamental dari paradigma institusi tersebut. Jika pihak swasta berorientasikan pada keuntungan belaka, pada pemikiran kapitalis atau pada privatisasi, mungkin kata lebih baik itu sebaiknya dihilangkan saja. Namun akan berbeda halnya jika pihak swasta itu memang berusaha untuk berpikir kesetaraan, berpikir persamaan hak didalam tubuhnya, atau mengutamakan kepentingan bersama, mungkin bisa dibilang lebih baik. Intinya adalah baik swasta maupun negeri, sama saja mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dan menekan modal serendah mungkin. Gaji ke 13 itu hanya bentuk pembodohan saja. Tanya Kenapa? Dengan pemberian Gaji ke 13, berarti secara tidak langsung kita akan berpikir bahwa perusahaan memperhatikan kita, namun jika kita telusuri lebih jauh, ada suatu tujuan tertentu dari perusahaan yaitu “keuntungan”. Setiap pencarian keuntungan, akan ada yang dikorbankan. Gaji ke 13 tersebut hanyalah motivator fiktif, karena kita akan termotivasi untuk bekerja lebih baik, namun kita akan sadar jika kita mempertanyakan apakah seimbang antara pemberian gaji ke 13 dengan apa yang kita lakukan.
Percuma saja jika ada gaji ke 13 tetapi kita tidak mendapatkan kesejahteraan, kenyamanan, alih-alih kita bisa membuat kecemburuan antara kita dengan divisi lain dalam tubuh perusahaan tersebut. Baik swasta maupun negeri sebenarnya hal tersebut berlaku. Alangkah baiknya kita berdiri sendiri, tanpa ada tekanan, tanpa ada gaji ke 13, tanpa ada sistem yang berusaha mengatur selama kita masih mampu berjalan dengan pemikiran terbuka dan terpola. Maju bersama dan jatuh bersama. Dengan berdiri sendiri berarti kita bisa mengatur jalan kita sendiri tanpa ada otoritas yang membayangi, tanpa ada sistem bentukan yang berusaha membatasi jalan kita. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita memperkuat diri kita sendiri sehingga kita mampu berdiri sendiri dan berusaha menggempur benteng-benteng birokrasi yang menyulitkan kita bergerak.
Intinya adalah tentang bagaimana mengubah "kerja" menjadi sebuah permainan yang menggembirakan dimana semua orang yang terlibat di dalamnya dapat bersenang-senang. Tapi entahlah bagi kalian semua, apalagi bagi para pecandu kerja di luar sana yang seringkali tidak dapat berpikir dan melakukan sesuatu selain mengabdikan dirinya pada dunia kerja. Sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah slogan saat terjadi revolusi Paris 68: "Seorang yang selalu bekerja tidak akan pernah mengerti lagi apa yang harus ia lakukan selain bekerja". Menyedihkan? Hmmm…
Jadi tanggapan saya juga tergantung atas dasar apa kita mendapatkan Gaji ke 13. Kalo memang gaji ke 13 tersebut cukup prospektif, cukup menyejahterakan, cukup nyaman, cukup memberikan kebahagiaan, cukup sebanding dengan apa yang kita kerjakan atau menggembirakan buat kita, kenapa tidak kita ambil. Namun jika gaji ke 13 tersebut hanya akal-akalan direksi agar kita terbuai dengan apa yang ditawarkan perusahaan sehingga perusahaan mendapat keuntungan sebesar-besarnya dan yang sejahtera hanyalah mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan tanpa memikirkan kitalah yang membuat mereka sejahtera, buat apa gaji ke 13 tersebut. Jika kita hanya ingin dibodohi, buat apa gaji ke 13?
"Kebebasan tidak akan pernah dapat direalisasikan sebelum saatnya lewat dimana buruh tidak lagi perlu bekerja di bawah dorongan kebutuhan dan keperluan eksternal" Karl Marx
Regrets, Yafet Santo Nugroho
Tulisan ini merupakan tantangan terbuka bagi mereka-mereka yang memberangus setiap kepercayaan dan sweeping plus pengrusakan keyakinan yang dicap kafir oleh front-front maupun divisi-divisi yang berlindung dibalik topeng moral agama! Aku bersumpah untuk setiap tempat ibadah yang kalian hancurkan dengan mudah, untuk setiap kitab yang kalian anggap layak dijadikan tempat meludah. Atas nama kebanggaan terhadap kepercayaan individu sehingga kebebasan orang lain harus rata dengan tanah. Untuk setiap dakwah yang kalian lempar sebagai invitasi untuk menjelajah kemungkinan bahwa setiap pemikiran diluar kepala kalian pantas untuk musnah!
Sudah seharusnya setiap individu bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir, bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Negara pun seharusnya juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius tertentu. Hal-hal ini secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat.
Fenomena pemberangusan kebebasan berkeyakinan menjadi trend busuk dikalangan divisi atau front-front yang mengatasnamakan suatu kultur religius tertentu. Sehingga fenomena tersebut lebih pantas untuk disebut dengan fasisme berkedok agama. Saya berargumen bahwa fasisme tak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah masyarakat dan saya pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama dan fasisme terutama bagi mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan dan argumentasi. Kecuali memang jika kita dikelilingi oleh para fasis atau dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan pasukan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah. Mereka-mereka yang mengatasnamakan suatu penganut religius tertentu dengan terang-terangan melakukan penganiayan, pemukulan bahkan penyerangan dan pengrusakan tempat-tempat ibadah dibeberapa kota.
Namun bagaimanapun juga kita juga tidak boleh atau tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan yang idealistik sebagai sebuah masalah intelektual yang tak berhubungan dengan perjuangan agama itu sendiri seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum-kaum yang terorganisir dalam front-front yang ada diantara masyarakat kita.
| |